Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Friday, May 29, 2015

Mekanisme dasar dan Patofisiologi

Introduksi


Mekanisme dasar dan Patofisiologi
Kemampuan untuk mengalami rasa nyeri merupakan hal yang penting untuk bertahan hidup dan kelangsungan hidup. Akibat patologis yang dapat timbul karena ketidakmampuan untuk merasakan nyeri telah di jelaskan secara rinci dengan adanya nyeri berlebihan yang dialami oleh anak anak dengan kongenital indeferensi terhadap nyeri. Pada sistem nyeri, termasuk fiber aferen (nosiseptor) yang merespon terhadap jejas,, dan sirkuit yang berhubungan dengan afferen afferen ini, tidak hanya membentuk refleks withdrawal terhadap jejas, tetapi juga memberikan fungsi protektif terhadap jaringan atau jejas pada saraf. Pada kondisi seperti ini, neuron neuron pada jalur nyeri menjadi sensitive pada stimulus yang tidak menimbulkan jejas diersepsikan sebagai sangat nyeri (allodynia), dan stimulus yang normalnya nyeri dipersepsikan menjadi lebih nyeri (hiperalgesia). Proses sensitasi diperkirakan merupakan respon adaptif yang melindungi area jejas. Pada beberapa kasus, roses sensitasidapat bertahan  lama, kemudian berkembang menjadi sindrom nyeri kronik, tetap ada setelah nyeri akut terselesaikan. Pada keadaan patologis seperti ini, sering melemahkan kondisi, adanya kelainan plastisitas pada jalur nyeri yang berkembang menjadi sebuah kondisi kegagalan adaptif dimana nyeri tidak lagi sebagai sistem peringatan akut.

Kemampuan untuk mencegah kondisi yang bergantung pada pengertian komprehensif terhadap mekanisme dasar dimana sinyal nyeri dihasilkan oleh nosiseptor dan bagaimana informasi ini ditransmisikan ke sistem saraf pusat (CNS). Pada chapter ini, kita berfokus pada molekul dan tipe sel yang berperan dalam sensasi normal, dengan spesifik emfasis pada nosiseptor dan pada ordo kedua neuron-neuron pada spinal cord. Kita juga mendiskusikan bagaimana proses ini terjadi karena jejas jaringan atau jejas saaraf dan pada keadaan nyeri persisten

Neuron afferen primer


Deteksi stimulus somatosensoris diinisisasi oleh neuron sensoris primer dimana badan sel terdapat pada nervus trigeminusdan dorsal root ganglia. Pseudo unipolar neuron ini memperpanjang cabang affeen yang menginervasi jaringan perifer target dan cabang sentral afferen yanbg memiliki target spinal cord dorsal horn atau nukleus kaudal medulla (untuk afferen trigeminal). Afferen primer yang menginervasi jaringan somatik dari dulu dikategorikan menjadi 3 kelas AB, AG, C fiber, berdasarkan diameter, derajat myelinisasi, dan kecepatan konduksi. Perbedaan fisiologik dihubungkan dengan kontribusi fungsional atau sensasi somatik.badan sel yang memiliki Diameter terbesar memberikan peningkatan myelinisasi fiber AB yang mempercepat konduksi impuls nyeri dan mendeteksi stimulasi mekanik yang tidak menimbulkan jejas. Stimulus noxious termal,mekanis dan kimia, dideteksi oleh diameter menengah, memiliki myelin yang tipis fiber AG dan diameter yang kecil, serat C fiber yang tidak bermyelin. Kedua grup ini merupakan nosiseptor, dan menunjukkan sistem deteksi terhadap stimulus yang mampu membuat jejas pada jaringan, dan hanya tertarik pada intensitas stimulus mencapai range noxious. Nosiseptor AG memediasi cepat dan sensasi pricking pada nyeri pertama, dan c fiber membawa informasi kualitas nyeri pada nyeri kedua.

Subtipe nosiseptor


Studi elektrofisiologik telah mengidentifikasi 2 kelas nosiseptor AG. Tipe pertama siap diaktivasi oleh stimulasi mekanik. Sel-sel ini relatif tidak merespon pada durasi yang pendek, stimulasi panas yang noxious, tetapi lebih berespon pada periode yang lebihnpanjang pada stimulasi panas. Kelas kedua  tidak sensitif terhadap stimulasi mekanik tetapi lebih diaktifkan oleh panas. Nosiseptor AG memiliki karkteristik adanya ekspresi dari beberapa pertanda molekular. Berdasarkan status myelinisasi, serabut-serabut ini mengekspresikan neurofilamen, N52, pertanda fiber bermyelin. Sebagian nosissptor AG mengekspresi neuropeptide, calcitonin gene-related peptide (CGRP), kanal ion TRPV2 dan subtipe G dari reseptor opioid.

Sebagian besar nosiseptor serat C menunjukkan properti respon polimodal, serat serat ini  diaktivasi oleh modal multimodal dari stimulus nyeri, termasuk termal, kimia, dan mekanik. Walaupun lebih langka, spesifik pada modalitas. (contoh, eksklusif respon terhadap panas). Serat C tetap berperan. Nosiseptor serat C sejak dulu dibagi berdasarkan identias neurokimia, menjadi 2 kelas umum: nosiseptor peptidergik menunjukkan neuropeptide substance P dan CGRP, nosiseptor non-peptidergik kekurangan neuropeptide dan berikatan dengan lectin IB4. Bukti terbaru  menunjukkan bahwa molekul ini menunjukkan subtipe serat C membuat perbedaan kontribusi fungsi pada deteksi stimulus noxious dari modalitas yang berbeda. 

Nosiseptor dan deteksi stimulus noxious


Terminal perifer dari nosiseptor spesial untuk mendeteksi dan mentransduksi ztimulus noxious. Proses ini tergantung keberadaan dari kanal ion spesifik dan reseptor pada termjnal perifer. Diantara ini semuaa id sensing ion channel, purinergic P2x reseptor, pintu sodium bervoltase, kanal kalsium dan potassium, dan famili transient receptorpotential (TRP) dari kanal ion. Banyak dari molekul ini unik atau istimewa diekspresi di nosiseptof, dibandingkan bagian lain dari sistem saraf.

Mekanisme molekuler dari nosisepsi: termal, mekanik, dan kimia


Aktivasi ambang batas beberapa reseptor perifer sangat dekat dengan batas psikofisik antara persepsi stimulus thermal innocous dan noxious. Sebagai contoh, ambang nyeri akibat panas pada manusia, sekitar 43 derajat celcius, sesuai dengan aktivasi ambang terhadap sensoris kanal ion, TRPV1, pada tikus yang kurang memiliki TRPV 1 menunjukkan adanya kekurangan dalam sel dan respon terhadap noxious heat. Serupa dengan itu, kanal ion, TRPM8, berhubungan dengan temperatur dibawah 25derajat celcius, dan pada tikus yang memiliki kekurangan pada reseptor ini menunjukkan adanya pengurangan respon  yang drastis terhadap ambang panas dan dingin., termasuk ambang noxious. Kemudian, beberapa reseptor berperan dalam mendeteksi stimulus noxious thermal, termasuk kanal ion TRPV3 dan TRPV4.

Beberapa kandidat reseptor telah  diusulkan mendasari mekanisme transduksi, termasuk anggota dari famili degenerin/ epithelial Na+ channel (DEG/EnaC) dan anggota dari famili TRP (sebagai contoh TRPV2, TRPV4, dan TRPA1). Akan tetapi studi knockout gene telah gagal menegaskan dukungan fungsi esensial molekul molekul di dalam mekanisme transduksi. Karena mekanisme hipersensitivitas adalah  masalah klinis yang besar, identifikasi molekul kunci transduser masih menjadi tantangan yang besar.

Akhirnya, stimulus kimia noxious mengaktivasi sejumlah reseptor yang ditemukan di terminal nosiseptor. Diantaranya adalah ASIC dan  reseptor ATP responsive purinergi. Yang mungkin relevan dengan jejas jaringan, dimana perubahan pH dan pelepasan ATP sudah biasa. Beberapa kanal TRP  (TRPV1) juga diregulasi dengan pH dan banyak target iritan yang berasal dari tumbuhan, termasuk capsaicin (TRPV1), menthol (TRPM8) dan bahan-bahan yang ada di mustar dan bawang (TRPA 1). TRPA 1 juga merespon terhadap hots dari  lingkungan iritan. Akhirnya, ada mediator kimawi endogen tertentu yang mengaktivasi kanal subtipe TRP yang berbeda. Mediator- mediator ini mungkin sangat berperan pada jejas jaringan viscera, innervasi afferen yang tidak bisa diakses terhadap stimulus kimiawi eksogen atau stimulus thermal  yang intens.

Konduksi sinyal nosisepsi


Nosiseptor mengekspresi perlengkapan untuk subtipe kanal ion gerbang bervoltase. Diantara neuron sensoris spesifik terhadap kanal sodium Nav 1,8 dan 1,9, yang  tersebar mengekspresi knal sodum Nav1,7, berperan pada generasi dan transduksi aksi potensial di nosiseptor. Peran yang sangat penting dari Nav 1,7 dapat nosisepsi telah didemonstrasikan di laporan yang terjadinya mutasi kehilangan fungsi pada kanal ini di manusia yang mengarah pada ketidakmampuan untuk mendetekstimulus nyeri, sementara terjadinya mutasi bertambahnya fungsi mengarah ke gangguan dengan karakteristik nyeri terbakar yang intens. Kanal  potassium tipe KCNQ yang juga berperan penting dalam menentukan waktu repolarisasi nosiseptor.

Ketika aksi potensial memasuki terminal sentral di nosiseptro, pelepasan neurotransmitter dipicu melalui aktivasi kanal  kalsium gerbang bervoltase  N-, P/Q-, dan  tipe T.. Meskipun glutamate adalah neurotransmitter utama, jika tidak wajib, neurotransmitter eksitasi di semua nosiseptor, neuron peptidergic melepaskan SP dan CGRP . Reseptor spesifik untuk neurotransimtter ini yaitu reseptro  N-methyl-Daspratat Acid (NMDA) dan reseptor a-amino-3-hydroxy-5-methyl-4-isoxazolepropionat acid (AMPA) untuk glutamate, reseptor neurokinin 1 untuk SP, dan CGRP berlokasi pada tempat yang tidak seharusnya di spinal cord dorsal horn, dan memediasi respons post synaps sampai aktivasi afferen primer.

Sunday, April 19, 2015

Mekanisme Proses Pembekuan Darah

Mekanisme Proses Pembekuan Darah
Perdarahan merupakan salah satu dari komplikasi pencabutan gigi. Perdarahan mungkin menjadi komplikasi yang paling ditakuti baik oleh dokter maupun pasiennya yang dianggap mengancam kehidupan. Pengetahuan dan anamnesis  yang tepat oleh dokter gigi terhadap pasiennya  dalam  mendiagnosis, mencegah  dan  penanganannya  sangat diperlukan.

Penyebab perdarahan dapat disebabkan secara lokal maupun sistemik. Secara lokal seperti trauma yang terjadi berlebihan. Secara sistemik seperti individu dengan penyakit hati, misalnya seorang alkoholik yang menderita sirosis, pasien yang menerima terapi antikoagulan atau pasien yang minum aspirin dosis tinggi atau agen anti-radang yang lain yang nonsteroid. Semua itu berisiko perdarahan. Bermacam-macam tes laboratorium bisa mengkonfirmasikan/menyingkirkan masalah atau mengidentifikasikan bagian yang khusus yang menyebabkan kegagalan mekanisme pembentukan beku darah. Apabila pasien mengalami mekanisme beku darah yang terganggu, perawatan adalah merupakan kerja sama dokter gigi dan dokter umum.

Penanganan perdarahan sangat tergantung dari penyebab terjadinya perdarahan, dapat dengan  cara penanganan  lokal  atau  perlu  diberikan  obat-obatan  yang  membantu proses pembekuan darah.

Untuk itu, dokter gigi harus menjaga komunikasi yang jelas dan terbuka, tidak hanya dengan pasien, tetapi juga dengan dokternya atau hematologist. Ini akan memastikan bahwa dokter gigi memperoleh informasi lengkap, dan penting, kontrol kondisi pasien, dan rekomendasi manajemen pasien sebelum dan setelah operasi.

Pengertian darah


Darah adalah medium untuk transportasi massal jarak jauh berbagai bahan antar sel dan lingkungan eksternal atau antara sel-sel itu sendiri. Transportasi semacam itu penting untuk memelihara hemostatis. Darah terdiri dari cairan kompleks yaitu plasma tempat unsur-unsur sel-eritrosit, leukosit, dan trombosit-didalamnya. 

Eritrosit (sel darah merah) pada dasarnya adalah suatu kantong hemoglobin yang terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dan CO2 di dalam darah. Leukosit (sel darah putih), unit-unit pertahanan system imun, diangkut dalam darah ke tempat-tempat cedera atau invasi mikroorganisme penyebab penyakit. 

Karena darah sangat penting, harus terdapat mekanisme yang dapat mempercepat kehilangan darah apabila terjadi kerusakan pembuluh darah. Trombosit (keeping darah) penting dalam hemostatis, penghentian peradarahan dari suatu pembuluh yang cedera.

Darah membentuk sekitar 8% dari berat tubuh total dan memiliki volume rata-rata 5 liter pada wanita dan 5,5 liter pada pria. Darah berperan dalam hemostatis dengan berfungsi sebagai medium untuk membawa berbagai bahan ke dan dari sel, menyangga perubahan pH, mengangkut kelebihan panas ke permukaan tubuh untuk dikeluarkan, berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh, dan memperkecil kehilangan darah apabila terjadi kerusakan pada pembuluh darah.

Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah, jumlahnya dapat bermacam-macam, mulai dari sedikit sampai menyebabkan kematian. Perdarahan merupakan masalah yang memerlukan penanganan khusus.

Ada 3 tipe perdarahan :4

Perdarahan arterial : Darah tampak keluar menyemprot dan berwarna merah segar

Perdarahan venous (pembuluh darah balik) : Darah keluar mengalir dan berwarna kehitaman. Aliran darahnya kurang cepat dibandingkan dengan aliran darah pada perdarahan arterial

Pendarahan kapiler : Darah keluar merembes dan berwarna  diantara warna pada perdarahan arterial dengan pada perdarahan venous.

Pengetahuan menngenai anatomi merupakan jaminan terbaik untuk menghadapi kejadian yang tidak diharapkan yaitu perdarahan pada arteri atau vena. Regio-regio resiko tinggi adalah palatum dengan palatina mayor, vestibulum bukal molar bawah dengan fasialis, margo anterior ramus mandibular yang merupakan jalur perjalanan dari buccalis dan region apical molar ketiga yang terletak dengan alveolaris inferior. Regio mandibular anterior juga merupakan sumber perdarahan karena vaskularisasinya melimpah. Keadaan patologi juga mengakibatkan resiko perdarahan misalnya hemangioma. Secara umum, adanya lesi yang tumbuh dengan cepat adalah potensial berbahaya karena pertumbuhan tersebut memerlukan banyak suplai darah.

Gejala-gejala klinis perdarahan :

Klas I ( Kehilangan darah sampai 15% dari volume darah)
Disini belum memperlihatkan tanda-tanda klinis seperti kegelisahan, takikardi dan lain-lainnya

Klas II (kehilangan darah 15-30% dari volume darah)
Tanda-tanda klinis antara lain : kegelisahan, takikardi, dan tekanan darah biasanya menurun. Kulit terlihat pucat dan menjadi dingin apabila disentuh. Biasanya tipe ini tidak digunakan untuk transfusi darah.

Klas III (kehilangan darah 30-40% dari volume darah)
Tanda-tanda klinis antara lain : kegelisahan, takikardi dan sistolik menurun

Klas IV (kehilangan darah lebih dari 40% volume darah)
Tanda-tanda klinis antara lain :kegelisahan, takikardi, dan nadi menjadi lemah yang selanjutnya pasien kesadarannya mulai menurun.

Faktor pembekuan darah


Faktor
Peranan pada pembukan darah
I      Fibrinogen
Prekursor fibrin
II    Protrombin
Proensim, diaktifkan oleh tromboplastin
III   Tromboplastin
Diperlukan untuk merubah protrombin menjadi thrombin
IV    Kalsium
Diperlukan pada semua tahap
V     Proaccelerin
Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin
VI   Tidak lagi digunakan

VII  Proconvertin
Diperlukan untuk mengubah protrombin menjadi trombin
VIII Faktor antihemofilik (AHF)
Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin
IX  Komponen plasma thrombo plastin
Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin
X       Faktor Stuart-Prower
Diperlukan dalam pembentukan tromboplastin dan perubahan dari protrombin menjadi trombin
XI  Anteseden tromboplastin plasma
Diperlukan dalam pembentukan tromboplastin
XII    Faktor Hageman
Mengawali proses pembekuan darah in vitro
XIII   Faktor stabilisasi fibrin
Merubah fibrin menjadi polimer fibrin


Mekanisme pembekuan darah


Hemostatis adalah penghentian perdarahan dari suatu pembuluh darah yang rusak. Hemostatis melibatkan tiga langkah utama :

Spasme vaskuler
Pembuluh darah yang terpotong atau robek akan segera berkonstriksi akibat respons vaskuler inheren terhadap cedera dan vasokonstriksi yang diinduksi oleh rangsang simpatis. Konstriksi ini akan memperlambat aliran darah melalui defek, sehingga pengeluaran darah dapat diperkecil. Karena permukaan endotel(bagian dalam) pembuluh saling menekan satu sama lain akibat spasme vaskuler awal ini, endotel tersebut menjadi lengket dan melekat satu sama lain, kemudian menutup pembuluh yang rusak. Tindakan visik ini saja tidak cukup untuk secara total mecegah pengeluaran darah selanjutnya, tetapi penting untuk memperkecil pengeluaran darah dari pembuluh yang rusak sampai tindakan-tindakan hemostatik lainnya mampu menyumbat defek tersebut.  

Pembentukan sumbat trombosit
Trombosit dalam keadaan normal tidak melekat ke permukaan endotel pembuluh darah, tetapi apabila lapisan dalam ini rusak akibat cedera pembuluh, trombisit akan melekat ke kolagen yang terpajan, yaitu protein fibrosa yang terdapat di jaringan ikat dibawahnya. Setelah berkumpul ditempat cedera tersebut, trombosit mengeluarkan beberapa zat kimia penting dari granula simpanan mereka. Diantara zat kimia tersebut adalah adenosine difosfat (ADP), yang menyebabkan permukaan trombosit dalam sirkulasi yang lewat menjadi lengket dan melekat ke lapisan trombosit yang pertama. Trombosit yang baru melekat ini mengeluarkan lebih banyak ADP, sehingga lebih banyak lagi trombosit yang melekat, demikian seterusnya, dengan demikian sumbat trombosit cepat terbentuk ditempat cedera melalui mekanisme umpan balik positif.

Proses penumpukan ini diperkuat oleh pembentukan suatu zat kimia perantara, tromboksan A2,dari komponen membran plasma trombosit yang berkontak dengan kolagen. Walaupun mekanisme pembentukan sumbat trombosit saja sering cukup untuk menambal sedemikian banyak robekan halus dikapiler dan dinding pembuluh lainnya yang sering terjadi setiap hari, lubang yang lebih besar di pembuluh ini memerlukan pembentukan bekuan darah agar secara total menghentikan perdarahan

Koagulasi darah

Koagulasi darah atau pembekuan darah adalah transformasi darah dari cairan menjadi sel padat. Pembentukan suatu bekuan di atas sumbat trombosit memperkuat dan menunjang sumbat, memperkuat tambalan yang menutupi lubang di pembuluh. Selain itu, seiring dengan memadatnya darah disekitar defek pembuluh, darah tidak lagi dapat mengalir. Koagulasi adalah mekanisme hemostatik tubuh yang paling kuat, dan hal itu diperlukan untuk menghentikan perdarahan dari semua defek kecuali defek kecil.

Langkah terakhir dalam pembentukan bekuan adalah perubahan fibrinogen, suatu protein plasma besar yang larut dan dihasilkan oleh hati serta dalam keadaan normal selalu terdapat di plasma, menjadi fibrin, suatu molekul berbentuk benang yang tidak larut. Perubahan menjadi fibrin ini dikatalisasi oleh enzim thrombin di tempat pembuluh yang mengalami cedera.

Molekul fibrin melekat ke permukaan pembuluh yang rusak, membentuk struktur  mirip jarring longgar yang menangkap unsur-unsur sel darah. Massa yang terbentuk, atau bekuan darah, biasanya tampak merah karena banyaknya sel darah merah yang terperangkap, tetapi dasar dari bekuan tersebut adalah fibrin yang berasal dari plasma. Kecuali trombosit, yang berperan penting dalam mengubah fibrinogen menjadi fibrin, pembekuan darah dapat berlangsung tanpa kehadiran unsur sel lain dalam darah.

Jaring fibrin awal bersifat lunak karena jalinan yang dibentuk oleh serat-serat fibrin tersebut bersifat longgar. Namun, antara serat yang berdekatan membentuk ikatan kimia dan dikatalisasi oleh faktor XIII(faktor stabilisasi fibrin) yang dalam keadaan normal dalam plasma. Selain mengubah fibrinogen menjadi fibrin, thrombin juga mengaktifkan faktor XIII untuk menstabilkan jarring fibrin yang sudah terbentuk, meningkatkan agregasi trombosit, yang pada gilirannya penting untuk proses pembekuan dan bekerja melalui mekanisme umpan balik positif untuk mempermudah pembentukan dirinya.

Tuesday, February 24, 2015

16 Faktor Yang Mempengaruhi Produksi ASI

16 Faktor Yang Mempengaruhi Produksi ASI
1. Makanan 

Makanan yang dikonsumsi ibu menyusui sangat berpengaruh terhadap produksi ASI. Apabila makanan yang ibu makan cukup akan gizi dan pola makan yang teratur, maka produksi ASI akan berjalan dengan lancer

2. Ketenangan jiwa dan pikiran

Untuk memproduksi ASI yang baik, maka kondisi kejiwaan dan pikiran harus tenang. Keadaan psikologis ibu yang tertekan, sedih dan tegang akan menurunkan volume ASI.

3. Penggunaan alat kontrasepsi 

Penggunaan alat kontrasepsi pada ibu menyusui, perlu diperhatikan agar tidak mengurangi produksi ASI. Contoh alat kontrasepsi yang bisa digunakan adalah kondom, IUD, pil khusus menyusui ataupun suntik hormonal 3 bulanan.

4. Perawatan payudara

Perawatan payudara bermanfaat merangsang payudara mempengaruhi hipofise untuk mengeluarkan hormon prolaktin dan oksitosin.

5. Anatomis payudara

Jumlah lobus dalam payudara juga mempengaruhi produksi ASI. Selain itu, perlu diperhatikan juga bentuk anatomis papilla atau puting susu ibu.

6. Faktor fisiologi 

ASI terbentuk oleh karena pengaruh dari hormone prolaktin yang menentukan produksi dan mempertahankan sekresi air susu. 

7. Pola istirahat 

Faktor istirahat mempengaruhi produksi dan pengeluaran ASI. Apabila kondisi ibu terlalu capek, kurang istirahat maka ASI juga berkurang.

8. Faktor isapan anak atau frekuensi menyusui

Semakin sering bayi menyusu pada payudara ibu, maka produksi dan pengeluaran ASI akan semakin banyak. Akan tetapi, frekuensi penyusuan pada bayi prematur dan cukup bulan berbeda. Pada studi 32 ibu dengan bayi prematur disimpulkan bahwa produksi ASI akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan dilakukan karena bayi prematur belum dapat menyusu. Studi lain yang dilakukan pada ibu dengan bayi cukup bulan menunjukkan bahwa frekuensi penyusuan 10 ± 3 kali per hari selama 2 minggu pertama setelah melahirkan berhubungan dengan produksi ASI yang cukup. Berdasarkan hal ini direkomendasikan penyusuan paling sedikit 8 kali per hari pada periode awal setelah melahirkan. Frekuensi penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormone dalam kelenjar payudara.

9. Faktor obat-obatan 

Diperkirakan obat-obatan yang mengandung hormon mempengaruhi hormon prolaktin dan oksitoksin yang berfungsi dalam pembentukan dan pengeluaran ASI. Apabila hormon-hormon ini terganggu denga sendirinya akan mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran ASI.

10. Berat lahir bayi

Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah disbanding bayi dengan berat lahir normal (>2500 gr ). Kemampuan mengisap ASI yang ebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI. mengamati hubungan berat lahir bayi dengan volume ASI. Hal ini berkaitan dengan kekuatan untuk mengisap, frekuensi, dan lama penyusuan dibanding bayi yang lebih besar. Berat bayi pada hari kedua  dan usia 1 bulan sangat erat berhubungan dengan kekuatan mengisap yang mengakibatkan perbedaan intik yang besar disbanding bayi yang mendapat formula. Hubungan positif berat lahir bayi dengan frekuensi dan lama menyusui selama 14 hari pertama setelah lahir. Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi dengan berat lahir normal (>2500 gr ). Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.

11. Umur kehamilan saat melahirkan

Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi produksi ASI. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur (umur kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu menghisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah dari pada bayi yang lahir cukup bulan. Lemahnya kemampuan menghisap pada bayi prematur dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnnya fungsi organ.

12. Umur dan paritas 

Umur dan paritas tidak berhubungan atau kecil hubungannya dengan produksi ASI yang diukur sebgai intik bayi terhadap ASI. Pada ibu menyusui usia remaja dengan gizi baik, intik ASI mencukupi berdasarkan pengukuran pertumbuhan 22 bayi dari 25 bayi. Pada ibu yang melahirkan lebih dari satu kali, produksi ASI pada hari keempat setelah melahirkan lebih tinggi di banding ibu yang melahirkan pertama kali. Secara statistik tidak terdapat hubungan nyata antara paritas dengan intik ASI oleh bayi pada ibu dengan gizi baik. 

13. Konsumsi rokok

Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin. Adanya hubungan antara merokok dan penyapihan dini meskipun volume ASI tidak diukur secara langsung. Meskipun demikian pada studi ini dilaporkan bahwa prevalensi ibu perokok yang masih menyusui 6-12 minggu setelah melahirkan lebih sedikit dari pada ibu yang bukan perokok dari kelompok social ekonomi sama, dan bayi dari ibu perokok mempunyai insiden sakit perut yang lebih tinggi. Ibu yang merokok lebih dari 15 batang rokok/hari mempunyai prolaktin 30-50% lebih rendah pada hari pertama dan hari ke-21 setelah melahirkan disbanding dengan yang tidak merokok

14. Alkohol

Meskipun minuman alkohol dosis rendah di satu sisi dapat membuat ibu merasa lebih rileks sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun di sisi lain etanol dapat menghambat produksi oksitosin. Pada dosis etanol 0,5-0,8 gr/kg berat badan ibu mengakibatkan kontraksi rahim hanya 62% dari normal, dan dosis 0,9-1,1 gr/kg mengakibatkan kontraksi rahim 32% dari normal (Matheson, 1989)

15. Stress dan Penyakit Akut

Ibu yang cemas dan stress dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI akan berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan nyaman. Studi lebih lanjut diperlakukan untuk mengkaji dampak dari berbagai tipe stress ibu khususnya kecemasan dan tekanan darah terhadap produksi ASI. Penyakit infeksi, baik yang kronik maupun akut yang menggangu proses laktasi dapat mempengaruhi produksi ASI.

16. Pil Kontrasepsi

Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestrin berkaitan dengan penurunan volume dan durasi ASI,  sebaliknya bila pil hanya mengandung progestin maka tidak ada dampak terhadap volume ASI. Berdasarkan hal ini WHO merekomendasikan pil progestin untuk ibu menyusui yang menggunakan pil kontrasepsi.




Sumber :

Nurjanah, Nunung Siti. 2013. Asuhan Kebidanan Postpartum. EGC: Bandung.

Cara Menyusui Bayi Yang Baik Dan Benar

Cara Menyusui Bayi Yang Baik Dan Benar
Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada  puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai disinfektan dan menjaga kelembapan puting susu.

Bayi diletakkan menghadap perut ibu.

  1. Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih menggunakan kursi yang rendah (kaki ibu tidak bergantung) dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
  2. Bayi dipegang pada belakang bahu dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh menengadah, dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan).
  3. Satu tangan bayi diletakkan pada badan ibu, dan satu di depan.
  4. Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi)
  5. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
  6. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
  7. Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.

Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang dibawah, jangan menekan puting susu atau areolanya saja.

Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflect) dengan cara :

  1. Menyentuh pipi bayi bayi dengan puting susu 
  2. Menyentuh sisi mulut bayi

Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi diletakkan ke payudara ibu dengan putting serta areolanya dimasukkan ke mulut bayi.

  1. Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tmpat penampungan ASI yang terletak di bawah areola.
  2. Setelah bayi mulai mengisap, payudara tak perlu dipegang atau disangga lagi.

Melepas isapan bayi

Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitar dan dibiarkan kering dengan sendirinya untuk mengurangi rasa sakit. Selanjutnya menyendawakan bayi, tujuannya adalah mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah (gumoh) setelah menyusui. 


Cara menyendawakan bayi :

  1. Bayi dipegang tegak dengan bersandar pada bahu ibu kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan.
  2. Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu, kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan.



Cara Pengamatan Teknik Menyusui yang Benar 


Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusu dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :


  1. Bayi tampak tenang
  2. Badan bayi menempel pada perut ibu
  3. Mulut bayi terbuka lebar 
  4. Dagu bayi menempel pada payudara ibu
  5. Sebagian areola masuk ke dalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk
  6. Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan
  7. Putting susu tidak terasa nyeri
  8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
  9. Kepala bayi agak menengadah


Sumber :

Sujiyatini. 2010. Asuhan Ibu Nifas. EGC: Jakarta.
Nurjanah, Nunung Siti. 2013. Asuhan Kebidanan Postpartum. EGC: Bandung.

Komposisi ASI Berdasarkan Kandungan Zat Gizinya

Komposisi ASI Berdasarkan Kandungan Zat Gizinya
Protein

Bentuk paling banyak adalah whey- protein, alfa lactalbumin dan lactoferin yang diserap dengan baik oleh tubuh dn bisa memenuhi kebutuhan per unit berat badan.

Lemak

Lemak sebagai pelarut vitamin A,D,E dan K. Total energy ASI 50%-nya dari lemak, dan 98% lemak ASI berupa trigliserid yang mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh dalam perbandingan yang sama, sedang pada susu sapi mengandung lebih banyak asam lemak jenuh. Kandungan asam lemak essential dan asam lemak tak jenuh akan membantu perkembangan saraf dan penglihatan.

Karbohidrat 

Bentuk utama karbohidrat ASI adalah laktosa dan merupakan 40% dari total energy ASI. Laktosa ini dapat diserap secara efisien oleh bayi yaitu lebih dari 90%. Sedangkan sisa yang tidak serap akan difermentasi diusus yang berefek penurunan PH usus dan membantu penyerapan kalsium (untuk pertumbuhan tulang).

Vitamin dan mineral 

Kandungan vitamin dan mineral yang terdapat dalam ASI adalah ;
  1. Vitamin A
  2. Vitamin D
  3. Besi
  4. Zinc


Upaya Memperbanyak ASI


Upaya-upaya untuk memperbanyak ASI adalah :


  1. Pemberian ASI segera 30 menit pertama setelah bayi lahir
  2. Meneteksi bayi sering, siang dan malam, setiap waktu sampai bayi tidak mau menetek
  3. Meneteki payudara kiri&kanan secara bergantian
  4. Berikan ASI dari satu payudara sampai kosong sebelum pindah ke   payudara lainnya.
  5. Jika bayi telah tidur selama 3 jam, bangunkan dan langsung teteki
  6. Cara menyusui yang benar sangat enting sekali dalam upaya memperbanyak ASI
  7. Dukungan psikologis dari keluarga dan sekitarnya akan sangat berpengaruh.

Air susu ibu (ASI) adalah cairan kehidupan terbaik yang sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung berbagai zat yang penting untuk tumbuh kembang bayi dan sesuai dengan kebutuhannya. Meski demikian, tidak semua ibu menyusui bayinya karena berbagai alasan. Misalnya takut gemuk, sibuk, payudara kendor, dan sebagainya. Di lain pihak, ada juga ibu yang ingin menyusui bayinya tetapi mengalami kendala. Biasanya ASI tidak mau keluar atau produksinya kurang lancar. Banyak hal yang dapat mempengaruhi produksi ASI. Produksi dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin dan oksitosin. Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan oksitosin mempengaruhi proses pengeluaran ASI. Prolaktin berkaitan dengan nutrisi ibu, semakin asupan nutrisinya baik maka produksi dihasilkan juga banyak. Namun demikian, untuk mengeluarkan ASI diperlukan hormon oksitosin yang kerjanya dipengaruhi oleh hisapan bayi. Semakin sering puting susu dihisap oleh bayi maka semakin banyak pula pengeluaran ASI. Hormon oksitosin sering disebut sebagai hormon kasih saying. Sebab, kadarnya sangat dipengaruhi oleh suasana hati, rasa bahagia, rasa dicintai, rasa aman, ketenangan dan relaks.


Tanda bayi cukup ASI


Hampir semua ibu dapat memproduksi ASI cukup untuk seorang bahkan dua orang bayi. Seringkali walaupun ibu merasa ASInya kurang sebenarnya bayinya cukup mendapat ASI. Untuk mengetahui apakah bayi mendapat cukup

ASI atau tidak dapat dilakukan dengan cara :

Memeriksa kenaikan berat badan bayi

Timbang bayi dan lihat pada status atau Kartu Menuju Sehat (KMS) berapa berat bayi sebelumnya. Bila kenaikan beratnya cukup berarti bayi mendapat cukup ASI. Bila tidak ada catatan sebelumnya dan anda tidak dapat mengetahui kenaikannya, segera timbang bayi dan anjurkan kembali lagi setelah satu minggu.

Memeriksa pengeluaran kencing bayi

Tanyakan pada ibu berapa kali bayi kencing, tanyakan atau periksa apakah kencingnya berwarna gelap atau berbau tajam. Ini dapat memberikan keterangan dengan segera apakah bayi yang mendapat ASI eksklusif cukup mendapat ASI. Namun bila bayi sudah diberi minuman lain, nda tidak akan tahu.


Sumber :

Nurjanah, Nunung Siti. 2013. Asuhan Kebidanan Postpartum. EGC: Bandung
Sujiyatini. 2010. Asuhan Ibu Nifas. EGC: Jakarta.

Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi

Pengertian dari pemberian ASI Eksklusif


Ada beberapa Pengertian dari Pemberian ASI Eksklusif oleh beberapa sumber:


  1. Menyusui melalui puting susu sang ibu hingga bayi mencapai umur 8 bulan (bila mungkin) merupakan titik awal perkembangan struktur emosi dan kepribadian sang bayi yang dilahirkan. Menyusui melalui kecupan mulut sang bayi ke puting susu sang ibu mendekatkan dan member kehangatan hubungan antara ibu dengan sang bayi yang bertumbuh kembang.
  2. Inisiasi menyusui adalah untuk menjembatani supaya sang bayi mengecup puting susu sang ibu sebagai jembatan kehidupan yang menyatukan di antara keduanya. Meletakkan kepala sang bayi di antara kedua payudara sang ibu disebut skin to skin contact (peluk anak sampai nempel ke badan ibu sampai nempel kulit), yang dilanjutkan meletakkan mulut sang bayi ke salah satu puting susu sang ibu. Menyusui melalui kecupan puting susu ibu kandung seperti ini menunjukkan adanya hubungan jasmani dan batin di antara keduanya dalam mengarungi kehidupan sang bayi.
  3. Peran kecupan sang bayi ke puting susu sang ibu waktu menyusui digambarkan sebagai anaclitic depression (sebab keabnormalan tingkah laku), jika sang bayi dipisah paksa dari ibu yang menyusui melalui puting susu sang ibu, timbullah syndrome analictic depression (tanda-tanda keabnormalan tingkah laku), yakni sang bayi selalu menangis, menantang lingkungan, mundur rangsangannya, kurang bergerak, kehilangan nafsu makan, meningkat mengencot jarinya, dan kurang tidur. Setelah diberikan kembali ASI melalui puting susu ibu selama 3 – 5 bulan, semua gejala tersebut hilang. Jelas, menyusui melalui puting susu ibu bukan sekedar memberikan makanan tetapi penuh dengan rasa kasih dan sayang (love and affection). 
  4. Pemberian ASI bermanfaat bagi ibu. Selain dapat diberikan dengan cara mudah dan murah, ASI juga dapat mencegah terjadinya perdarahan setelah persalinan, mempercepat mengecilnya rahim, menunda masa subur, mengurangi anemia, serta menunda terjadinya kehamilan berikutnya. Menyusui juga dapat menunrunkan risiko terjadinya kanker payudara dan kanker ovarium pada ibu di kemudian hari.
  5. Waktu 6 bulan yang direkomendasikan oleh World Health organization (WHO) untuk memberikan ASI eksklusif bukannya tanpa alasan. Para ahli menyatakan bahwa manfaat ASI akan meningkat jika bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan sesuai dengan pemberian ASI eksklusif, serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup, pertumbuhan, dan perkembangan bayi. ASI memberi semua energy dan gizi (nutrisi) yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak, seperti diare dan radang paru-paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran.
  6. Pemberian ASI bukanlah sekedar memberi makanan kepada bayi. Ketika bayi yang sedang disusukannya, pandang matanya tertuju kepada bayi dengan nuansa kasih sayang dan keinginan untuk dapat memahami kebutuhan bayi. Ia merasa dimengerti, dipenuhi kebutuhannya (lapar), disayangi, dicintai. Lewat ASI bayi dan ibu sama-sama belajar mencintai dan merasakan nikmatnya dicintai.
  7. United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF)  memperkirakan bahwa pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dapat mencegah kematian 1,3 juta anak berusia di bawah lima tahun. Suatu penelitian di Ghana yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan 16% kematian bayi dapat dicegah dengan pemberian ASI sejak hari pertama kelahirannya. Angka ini naik 22% jika pemberian ASI dimulai dalam satu jam pertama setelah kelahiran bayi. Namun di Indonesia hanya sekitar 8% saja ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif kapada bayinya sampai berumur 6 bulan dan 4% bayi disusui ibunya dalam waktu satu jam pertama setelah kelahirannya. Padahal 21.000 kematian bayi baru lahir usia 28 hari di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian ASI pada satu jam pertama setelah lahir.
  8. Penelitian membuktikan bahwa ASI eksklusif selama 6 bulan memang baik bagi bayi. Naluri bayi akan membimbingnya saat baru lahir, insting bayi membawanya untuk mencari puting ibunya. Pada jam pertama bayi menemukan payudara ibunya, ini adalah awal hubungan menyusui yang berkelanjutan dalam kehidupan antara ibu dan bayi. Proses setelah IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan hingga 2 tahun. Jika bayi baru lahir dipisahkan dengan ibunya maka hormon stres akan meningkat 50% sehingga hal ini akan mengakibatkan turunnya daya tahan tubuh bayi. 

Manfaat Pemberian ASI 


Manfaat ASI untuk Bayi

  1. Pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik, terutama pada bayi umur kurang dari 6 bulan, selain juga bermanfaat bagi ibu. ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6 bulan pertama kehidupannya.
  2. Pada umur 6 sampai 12 bulan, ASI masih merupakan makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi, perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). 
  3. Setelah umur 1 tahun, meskipun ASI hanya bisa memenuhi 30% dari kebutuhan bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih memberikan manfaat.
  4. ASI disesuaikan secara unik bagi bayi manusia, seperti halnya susu sapi adalah yang terbaik untuk sapid an komposisi ASI ideal untuk bayi.
  5. ASI mengurangi risiko infeksi lambung-usus, sembelit dan alergi
  6. ASI memiliki kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit. Contohnya, ketika ibu tertular penyakit (misalnya melalui makanan seperti gastroentretis atau polio), antibodi sang ibu terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI.
  7. Bayi ASI lebih bisa menghadapi efek kuning (jaundice). Level bilirubin dalam darah bayi banyak berkurang seiring dengan diberikannya kolostrum dan mengatasi kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui sesering mingkin dan tanpa pengganti ASI.
  8. ASI selalu siap sedia setiap saat, ketika bayi menginginkannya, selalu dalam keadaan steril dan suhu susu yang tepat.
  9. Dengan adanya kontak mata dan badan, pemberian ASI juga memberikan kedekatan anatara ibu dan anak. Bayi merasa aman, nyaman dan terlindungi, dan ini mempengaruhi kemapanan emosi si anak di masa depan.
  10. Apabila bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik untuk diberikan karena sangat mudah dicerna. Bayi akan lebih cepat sembuh.
  11. Beberapa penyakit lebih jarang muncul pada bayi yang diberikan ASI, diantaranya: kolik, SIDS (kematian mendadak pada bayi), eksim, Chron’s disease, dan Ulcerative Colitis.
  12. Intelligence quotient (IQ) pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point dari pada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9 ½ tahun mencapai 12,9 poin lebih tinggi dari pada anak-anak yang minum susu formula.
  13. Menyusui bukanlah sekedar memberi makan, tapi juga mendidik anak. Sambil menyusui, eluslah si bayi dan dekaplah dengan hangat. Tindakan ini sudah dapat menimbulkan rasa aman pada bayi, sehingga kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual yang tinggi. Ini menjadi dasar bagi pertumbuhan manusia menuju sumber daya manusia yang baik dan lebih mudah untuk menyayangi orang lain.

Manfaat ASI untuk Ibu


  1. Bayi mendapatkan nutrisi dan enzim terbaik yang dibutuhkan
  2. Bayi mendapat zat-zat imun, serta perlindungan dan kehangatan melalui kontak dari kulit ke kulit dengan ibunya.
  3. Meningkatkan sensitivitas ibu akan kebutuhan bayinya
  4. Mengurangi perdarahan, serta konservasi zat besi, protein, dan zat lainnya, mengingat ibu tidak haid sehinnga menghemat zat yang terbuang
  5. Penghematan karena tidak perlu membeli susu
  6. ASI eksklusif dapat menurunkan angka kejadian alergi, terganggunya pernapasan, diare, dan obesitas pada anak.

Manfaat ASI untuk Keluarga


  1. Tidak perlu uang untuk membeli susu formula, botol susu, kayu bakar atau minyak untuk merebus air susu atau peralatan
  2. Bayi sehat berarti keluarga mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam perawatan kesehatan dan berkurangnya kekhawatiran bayi akan sakit
  3. Penjarangan kelahiran karena efek kontrasepsi dari ASI eksklusif. Menghemat waktu keluarga bila bayi lebih sehat.
  4. Memberikan ASI pada bayi (meneteki) berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI selalu siap tersedia
  5. Lebih praktis saat akan bepergian, tidak perlu membawa botol, susu, air panas, dll.


Manfaat ASI untuk Masyarakat dan Negara

  1. Menghemat devisa Negara karena tidak perlu mengimpor susu formula dan peralatan lain untuk persiapannya
  2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit
  3. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa
  4. Terjadi penghematan pada sektor kesehatan karena jumlah bayi lebih sedikit.
  5. Memperbaiki kelangsungan hidup anak dengan menurunkan kematian
  6. ASI adalah sumber daya yang terus-menerus diproduksi dan baru. 


Sumber :

Sitepoe, Mangku. 2013. ASI Ekslusif Arti Penting Bagi Kehidupan. EGC: Jakarta.
Nurjanah, Nunung Siti. 2013. Asuhan Kebidanan Postpartum. EGC: Bandung.